Pacarku akhirnya mau ngeseks juga

16 Oct

Haiii pembaca setia Cerita-Dewasa.Us…. kenalkan namaku Ryan, umur saat ini 22 tahun, tercatat  sebagai mahasiswa sebuah PTS di Bandung. Pengalaman nyata cerita dewasa sex yang akan kuceritakan ini terjadi tiga tahun yang lalu. Sudah lama memang, tapi aku selalu teringat-ingat pengalaman seks tersebut dan tak akan pernah aku melupakan satu nama seorang mahasiswi bernama Cindy. Walau hingga sekarang pun akan selalu kukenang saat-saat indah bersamanya.

Pertemanan akrabku dengan Cindy karena ia adalah cucu dari ibu kostku. Cindy lebih tua 2 tahun dan dia anak Surabaya, sedang kuliah di Bandung hanya beda kampus denganku. Yang aku tahu, kedua orangtuanya sudah pisah ranjang selama dua tahun (tapi tidak bercerai) dan Cindy ikut tinggal bersama neneknya (ibu kostku) ketika ia masuk kuliah. Mungkin terlalu panjang kalo kuceritakan bagaimana prosesnya hingga kami berpacaran. Aku beruntung punya cewek seperti dia yang wajahnya sangat cantik (pernah dia ditawarin untuk menjadi model), segala yang diidamkan pria melekat pada dia. Kulitnya yang putih, hidung bangir, matanya yang indah dan bening, rambut ikal serta tubuhnya yang sexy padat.. Aku juga nggak tahu kenapa ibu kost menerimaku untuk nge-kost dirumahnya padahal yang kost di rumahnya adalah cewek semua. Mungkin karena ngeliat tampangku seperti orang baik-baik kali ya (hehehe)…

Pada awal kami berpacaran, Cindy termasuk pelit untuk urusan mesra-mesraan. Jangankan untuk berciuman, minta pegang tangannya saja susahnya minta ampun, ga terbayang deh untuk bisa ngentot dia hehehe… ! Padahal aku termasuk orang yang hypersex, dan aku sering kali melakukan onani untuk melampiaskan nafsu seksku, hingga sekarang. Aku bisa melakukan onani sampai tiga kali sehari. Setiap kali fantasi dan gairah seksku datang, pasti kulakukan kebiasaan jelekku itu. Entah dikamar mandi menggunakan sabun, sambil nonton VCD porno dan seringnya sambil tiduran telungkup di atas kasur sambil kugesek-gesekkan penisku. Aku merasakan nikmat setiap orgasme onani. Back to story, sejak aku dan Cindy resmi jadian, baru dua minggu kemudian dia mau kucium pipinya. Itu pun setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya ia mau juga kucium pipinya yang mulus itu, dan aku selalu ingin merasakan dan mengecup lagi sejak saat itu.

Hingga pada suatu malam, ketika waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, aku, Cindy dan Desi (anak kost yang lain) masih asyik menonton TV di ruang tengah. Sementara ibu kostku serta 3 anak kost yang lain sudah pergi tidur. Kami bertiga duduk diatas permadani yang terhampar di ruang tengah. Desi duduk di depan sementara aku dan Cindy duduk agak jauh dibelakangnya. Lampu neon yang menyinari ruangan selalu kami matikan kalau sedang menonton TV. Biar tidak silau kena mata maksudnya. Atau mungkin juga demi menghemat listrik. Yang jelas, cahaya dari TV agak begitu samar dan remang-remang. Desi masih asyik menonton dan Cindy yang disampingku saat itu hanya mengenakan kaos ketat dan rok mini matanya masih konsen menonton film tersebut. Sesekali saat pandangan Desi tertuju pada TV, tanganku iseng-iseng memeluk pinggang Cindy. Entah Cindy terlalu memperhatikan film hingga tangannya tidak menepis saat tanganku memeluk tubuhnya yang padat. Dia malah memegang rambutku, dan membiarkan kepalaku bersandar di pundaknya. Terkadang kalo pas iklan, Cindy pura-pura menepiskan tanganku agar perbuatanku tidak dilihat Desi. Dan saat film diputar lagi, kulingkarkan tanganku kembali.

“I love you, honey….” Bisikku di telinganya.
Cindy menoleh ke arahku dan tanpa sepengetahuan Desi, ia mendaratkan ciumannya ke pipiku. Oh my God, baru pertama kali aku dicium seorang cewek, tanpa aku minta pula. Situasi seperti ini tiba-tiba membuat pikiranku jadi ngeres apalagi saat Cindy meremas tanganku yang saat itu masih melingkar di pinggangnya, dan matanya yang sayu sekilas menoleh ke arah Desi yang masih nongkrong di depan TV. Aman, pikirku.Apalagi ditambah ruangan yang hanya mengandalkan dari cahaya Tv, maka sesekali tanganku meremas payudara Cindy. Cindy menggelinjang, sesekali menahan nafas. Lutut kanannya ditekuk, hingga saat tangan kiriku masuk ke dalam daster bagian bawah yang agak terbuka dari tadi, sama sekali tidak diketahui Desi. Mungkin ia konsen dengan film, atau mungkin juga ia sudah ngantuk karena kulihat dari tadi sesekali ia mengangguk seperti orang ketiduran.

Ciumanku kini sedikit menggelora, menelusuri leher Cindy yang putih mulus sementara tangan kiriku menggesek-gesekkan perlahan vagina Cindy yang masih terbungkus celana dalam. Ia mendesah dan mukanya mendongak ke atas saat kurasakan celana dalamnya mulai basah dan hangat. Mungkin ia merasakan kenikmatan, pikirku.Tanganku yang mulai basah oleh cairan vagina Cindy buru-buru kutarik dari dalam roknya, ketika tiba-tiba Desi bangkit dan melihat ke arah kami berdua. Kami bersikap seolah sedang konsen nonton juga.
“Aku ngantuk. Tidur duluan ya….. nih remote-nya!” ujar Desi sambil menyerahkan remote TV pada Cindy.
Desi kemudian masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Aku yang tadi agak gugup, bersorak girang ketika Desi hanya pamitan mau tidur. Aku pikir dia setidaknya mengetahui perbuatanku dengan Cindy. Bisa mati aku. Cindy yang sejak tadi diam (mungkin karena gugup juga) matanya kini tertuju pada TV. Aku tahu dia juga pura-pura nonton, maka saat tubuhnya kupeluk dan bibirnya kucium dia malah membalas ciumanku.
“Kita jangan disini Say, nanti ketahuan….” Bisiknya diantara ciuman yang menggelora.
Segera kubimbing tangan Cindy bangkit, setelah mematikan TV dan mengunci kamar Cindy, kuajak dia ke kamar sebelah yang kosong. Disini tempatnya aman karena setiap yang akan masuk ke kamar ini harus lewat pintu belakang atau depan. Jalan kami berjingkat supaya orang lain yang telah tertidur tidak mendengar langkah-langkah kami atau ketika kami membuka dan menutup kunci dan pintu kamar tengah dengan perlahan.

Setelah kukunci dari dalam dan kunyalakan lampu kamar kuhampiri Cindy yang telah duduk di tepi ranjang.
“Aku cinta kamu, Cindy…..” ujarku ketika aku telah duduk disampingnya.
Mata Cindy menatapku lekat.. Sejenak kulumat bibirnya perlahan dan Cindy pun membalas membuat lidah kami saling beradu. Nafas kami kembali makin memburu menahan rangsangan yang kian menggelora. Desahan bibirnya yang tipis makin mengundang birahi dan nafsuku. Kuturunkan ciumanku ke lehernya dan tangannya menarik rambutku. Nafasnya mendesah. Aku tahu dia sudah terangsang, lalu kulepaskan kaosnya. Payudaranya yang padat berisi ditutupi BH berwarna merah tua. Betapa putih kulitnya, mulus tak ada cacat. Kemudian bibir kami pun berciuman kembali sementara tanganku sibuk melepaskan tali pengikat BH, dan sesaat kemudian kedua payudaranya yang telah mengeras itu kini tanpa ditutupi kain sehelai pun.

Kuusap kedua putingnya, dan Cindy pun tersenyum manja.
“Ayo Yan, lakukanlah….” Ujarnya.
Tak kusia-siakan kesempatan ini, dan mulai kujilati payudaranya bergantian. Sementara tangan Cindy membantu tanganku melepaskan kemeja yang masih kukenakan. Kukecup putingnya hingga dadanya basah mengkilap. Betapa beruntungnya aku bisa menikmati semua yang ada ditubuhnya. Tangan kananku yang nakal mulai merambah turun masuk ke dalam roknya, dan kugesek-gesekkan pelan di bibir vaginanya. Cindy menggelinjang menahan nikmat, sesekali tangannya juga ikut digesek-gesekkan kesekitar vaginanya sendiri.

Bibirnya mendesah menahan kenikmatan. Matanya terpejam, Sebentar kemudian vaginanya mulai sedit basah. Dan kami pun mulai melepaskan celana kami masing-masing hingga tubuh kami benar-benar polos. Betapa indahnya tubuh Cindy, apalagi ketika kulihat vaginanya yang terselip diantara kedua selangkangannya yang putih mulus.
“Wah.. punyamu oke Cindy, Ok’s banget…” ujarku terpana
Begitu mulus memang,ditambah dengan bulu-bulu lebat disekitar bagian sensitifnya.
“Burungmu juga besar dan bertenaga. Aku suka Yan….” Balasnya sambil tangannya mencubit pelan kemaluanku yang sudah tegak dari tadi.
“Come on Honey….” Pintanya menggoda.

Aku tahu Cindy sudah begitu terangsang maka kemudian kusuruh Cindy berbaring di atas kasur. Dan aku baringkan tubuhku terbalik, kepalaku berada di kakinya dan sebaliknya(posisi 69). Kucium ujung kakinya pelan dan kemudian ciumanku menuju hutan lebat yang ada diantara kedua selangkangannya. Kukecup pelan bibir vaginanya yang sudah basah, kujilat klitorisnya sementara mulut Cindy sibuk mengocok-ngocok kemaluanku. Bibir vaginanya yang merah itu kulumat habis tak tersisa. Ehm, betapa nikmatnya punyamu Cindy, pikirku. Ciumanku terus menikmati klitoris Cindy, hingga sekitar vaginanya makin basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya.

Kedua jari tanganku aku coba masukkan lubang vaginanya dan kurasakan nafas Cindy mendesah pelan ketika jariku kutekan keluar masuk.
“Ahh… nikmat Yannn…ahhhh…” erangnya.
Kugesek-gesekkan kedua jariku diantara bibir klitorisnya dan Cindy makin menahan nikmat. Selang 5 menit kemudian kuhentikan gesekkan tanganku, dan kulihat Cindy sedikit kecewa ketika aku menghentikan permainan jariku.
“Jangan sedih Say, aku masih punya permainan yang menarik, okay?”
“Oke. Sekarang aku yang mengatur permainan ya?” ujarnya.
Aku mengangguk.Jujur saja, aku lebih suka kalau cewek yang agresif.Cindy pun bangkit, dan sementara tubuhku masih terbaring di atas kasur.
“Aku di atas, kamu dibawah, okay? Tapi kamu jangan nusuk dulu ya Say?”
Tanpa menunggu jawabanku tubuh Cindy menindih tubuhku dan tangan kanannnya membimbing penisku yang telah berdiri tegak sejak tadi dan blessss…….ah,Cindy merasa bahagia saat seluruh penisku menembus vaginanya dan terus masuk dan masuk menuju lubang kenikmatan yang paling dalam. Dia mengoyang-goyangkan pantatnya dan sesekali gerakannya memutar, bergerak mundur maju membuat penisku yang tertanam bergerak bebas menikmati ruang dalam “gua”-nya.

Cindy mendesah setiap kali pantatnya turun naik, merasakan peraduan dua senjata yang telah terbenam di dalam surga.Tanganku meremas kedua payudara Cindy yang tadi terus menggelayut manja. Rambutnya dibiarkan tergerai diterpa angin dingin yang terselip diantara kehangatan malam yang kami rasakan saat ini. Kubiarkan Cindy terus menikmati permainan ini. Saat dia asyik dengan permainannya kulingkarkan tanganku dipinggangnya dan kuangkat badanku yang terbaring sejak tadi kemudian lidah kami pun beradu kembali.
“Andainya kita terus bersama seperti ini, betapa bahagianya hidupku ini Cindy ” bisikku pelan
“Aku juga, dan ku berharap kita selalu bersama selamanya..”

Sepuluh menit berlalu, kulihat gesekan pinggang Cindy mulai lemah. Aku tahu kalau dia mulai kecapekan dan aku yang mengambil inisiatif serangan. Kutekan naik turun pinggangku, sementara Cindy tetap bertahan diam. Dan suara cep-clep-clep… setiap kali penisku keluar masuk vaginanya.
“Ahh terusss Yannnnn….terusss…nikmattttt…ahh…ahhhh….” hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Cindy, dan aku pun makin menggencarkan seranganku.
Ingin kulibas habis semua yang ada dalam vaginanya. Suara ranjang berderit, menambah hot permainan yang sedang kami lakukan. Kutarik tubuh Cindy tanpa melepaskan penisku yang sedang berlabuh dalam vaginanya dan kusuruh dia berdiri agar kami melakukan gerakan sex sambil berdiri.
“Kamu punya banyak style ya say?” katanya menggoda.
“Iya dong, demi kepuasan kamu juga” jawabku sambil mulai menggesek-gesekan pebisku kembali.
“Ahh teruss…terusss……” desah Cindy ketika penisku berulang kali menerobos vaginanya.

Kupeluk tubuh Cindy erat sementara jari tangan kirinya membelai lembut bulu-bulu vaginanya, dan sesekali membantu penisku masuk kembali setiap kali terlepas. Keringat membasahi tubuh kami. Lehernya yang mulus kucium pelan, sementara nafas kami mulai berdegup kencang.
“Yan, keteteran nih, mau klimaks. Jangan curang dong….”
“Oke, tahan dulu Cindy” dan kucabut batang penisku yang telah basah sejak tadi.
Kusuruh Cindy nungging di ranjang, sementara tanganku mengarahkan penisku yang telah siap masuk kembali. Dan kumasukkan sedikit demi sedikit hingga penisku ambles semua ke dalam surga yang nikmat.
“Ah…tekan Yan…enaaaakkkkk…terusssss Yannn….” Erangnya manja setiap kali penisku menari-nari di dalam vaginanya.
Tanganku memegang pinggangnya agar gerakanku teratur dan penisku tidak terlepas,.
“Ohh…nikmat sekali Yan….teruss….terusss……” desahnya.
Betapa nikmatnya saat-saat seperti ini…dan terus kuulang sementara mulut kami mendesah merasakan kenikmatan yang teramat sangat setiap kali penisku mempermaikan vaginanya.
“Yan….aku mo keluar nih…..udah ngga tahan….ahhh….ahhhh….” ujar Cindy tiba-tiba.
“Tahan Cin, aku juga hampir sampai….” aku menekan-nekan penisku kian cepat,sehingga suara ranjang ikut berderit cepat.
Dan kurasakan otot-otot penisku mengejang keras dan cairan spermaku berkumpul dalam satu titik.

“Aku keluar sekarang Cin….” penisku kucabut dari lubang vaginanya dan Cindypun seketika membalikkan badan dan menjulurkan lidahnya, mengocok-ngocok batang penisku yang kemerahan dan saat kurasakan aku tak mampu menahan lagi kutaruh penisku diantara kedua belah payudaranya dan kedua tangan Cindy pun menggesek-gesekkan payudaranya yang menjepit batang kemaluanku dan….croott…crooottt… spermaku jatuh disekitar dada dan lehernya Sebagian tumpah diatas sprei. Cindy menjilati penisku membersihkan sisa-sisa spermaku yang masih ada.
“Kamu ternyata kuat juga Say, aku hampir tak berdaya dihadapanmu” kubelai rambut Cindy yang sudak acak-acakan tak karuan.
“Aku juga ngga nyangka kamu sehebat ini Yan….”desahnya manja .

Waktu sudah menunjukkan setengah satu malam Dan setelah kami istirahat sekitar lima belas menit, kami memakai pakaian kami kembali dan membereskan tempat tidur yang sudah berantakan. Dan tak lama kemudian kami pun pergi tidur dikamar masing-masing melepaskan rasa lelah setelah kami ‘bermain” tadi.

Begitulah kisahku dengan Cindy, setiap hari kami selalu melakukannya setiap kali kami ingin dan ada kesempatan. Kami melakukannya di kamar sebelah kalau malam hari, kamar kostku, atau bahkan dikamar mandi (sambi mandi bareng disaat rumah kost kosong hanya ada kami berdua).

Hingga pada suatu hari Cindy harus pindah ke luar kota ikut kedua orang tuanya yang telah berbaikan lagi. Aku benar-benar kehilangan dia, dan ingin kuterus bersamanya. Pernah beberapa kali kususul ke tempatnya yang baru dan kami melakukannya berkali-kali di hotel tempat kami menginap. Tanggal 27 November 1998, tiba-tiba kuterima surat dari Cindy yang mengabarkan bahwa ia akan menikah dengan orang yang dipilihkan orang tuanya dan aku benar-benar kehilangan dia, aku sungguh sabgat mencintai dia….. Sekarang, setiap kali aku melakukan masturbasi, fantasiku selalu melayang mengingat saat-saat terindah kami melakukan hubungan seks pertama kali dikamar sebelah itu. Ingin rasanya aku ulangi saat-saat indah itu…

Tags: bercinta dengan pacar, ngentot pacar, seks mahasiswi

This entry was posted on Sunday, October 25th, 2009 at 1:58 am and is filed under Mahasiswi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

One Response to “Pacarku akhirnya mau ngeseks juga”

  1. aluer February 12, 2012 at 6:44 am #

    Kisah amatir nyata ini bener-benar terjadi.
    Saat itu saya (21th) disuruh untuk menjemput kekasih saya(22th) yang sedang lembur dalam pembuatan filem horor remaja di daerah puncak. Rumah saya di Jakarta sedangkan cewekku di Bogor. Di tengah jalan, pacar saya mengabarkan kalo syutingnya agak lebih malam jadi saya disuruh menunggu dirumah dia. Singkat cerita, jam 9-an malam, saya menunggu sambil menonton televisi dirumahnya bersama ibunya sebut saya tante Dewi (40th.an). Bapaknya pacar saya sudah tidur. Kebetulan saat itu ada filem di tv. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Mamanya pacarku tante Dewi sudah ketiduran di sofa. sementara saya masih bersila di lantai disamping sofa tante Dewi. Saat itu, pacarku telepon dan menyarankan aku menginap saja soalnya kru filem pada nginap di puncak sehingga dia juga ikut nginap. Ada pengambilan scene di waktu matahari terbit, jadi jemputnya pagi jam 7-an.

    Saat saya bicara di hape, tt Dewi bangun dan mendengarkan obrolan saya. Lalu tt Dewi menyarankan saya supaya tidur di kamar pacar saya. Singkatnya saya tidur di kamar pacar saya. Pukul 3 alarm hape saya bunyi waktunya shalat pagi. Saya bergegas memakai sarung lalu berjalan ke arah pintu. Rupanya tt Dewi sedang salat di ruang salat. Saya dengar suara speaker masjid yang adalah suara bapaknya cewekku. Rupanya om sudah duluan keluar rumah. Kebiasaan saya memang memakai baju terusan dan sarung saja. Celana dalam tidak pernah saya pakai kalo salat pagi. Saya pun segera ke kamar mandi ingin buang air kecil dahulu. Lalau saya bergegas ke pintu depan. Saat saya melewati pintu kamar tt Dewi, pintunya terbuka dan terlihat tt Dewi sedang melepas baju salatnya. Lampu kamar yang nyala hanya lampu meja riasnya saja sehingga suasana kamar menjadi remang-remang. Saya terperangah dan sekejab ada pikiran untuk mengintip “bentar” kegiatan tt Dewi. tt Dewi melepas semua “kimono”nya dan tubuh tt Dewi terlihat jelas. tt Dewi tidak memakai pakaian dalaman. Sayangnya saya hanya dapat melihat bagian belakang tt Dewi saja. Saya pikir mungkin tt Dewi lupa kalau ternyata saya menginap disini sehingga tidak menutup pintu kamar. Setelah memakai handuk, tt Dewi pergi ke meja rias. tt DEwi terlihat mendekatkan wajahnya ke cermin. Mungkin tt Dewi sedang merias atau memperhatikan mata. Saat itu saya sudah konak banget, terdengar suara papanya pacar saya yg masih meraung-raung membangunkan orang sekampung.

    Saya pikir aman nih. Saya segera mengendap-ngendap ke belakang tt Dewi. Tiba-tiba tt Dewi balik (mungkin karena mendengar desahan saya). tt Dewi kaget melihat saya dalam pakaian salat dan sarung. tt Dewi bertanya Ach, kamu kok disini?. Saya segera menjawab khan tt yang suruh saya nginap. saya mau ngomong sesuatu sama tante tapi ini rahasia. tt Dewi menatapku dan bertanya kenapa rahasia? saya bilang om dan **************** tidak boleh tahu. tt Dewi bertanya lagi kenapa emangnya. Saya lalu bilang kalo tante itu cantik walau sudah tua. tt Dewi diam saja. Lalu say tanya boleh ngak achmad cium tante. tt Dewi menghela napas lalu tt Dewi bilang boleh kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri. Lalu tt Dewi mendekatkan diri ke depan saya. dan tt Dewi menarik kepala saya dan mencium pipi kiri dan kanan saya. tt Dewi lalu kembali ke meja rias dan kembali menoles bibirnya dengan gincu sambil melirik saya. saya masih terpana dengankejadian yang begitu cepat. Saya lalu mendekat ke tt Dewi yang sedang berias tetapi tetap melirik mata saya. saya tanya boleh ngak kalo Achmad yang cium tante?. tt Dewi diam saja. saya segera memeli perlahan bodi tt Dewi dari samping kanan belakang. tangan saya yang kiri memegang lembut pinggang belakang kirinya dan tangan kanan saya meraba perutnya yang langsing. saya segera mencium pipi kanannya. tt Dewi diam saja. ditangan kanannya memegang gincu. sementara tangan yang satu bersandar di meja. saya kecup perlahan. Lalu saya bilang maaf tante, tt Dewi cuma berkata lirih iya. Om mana? saya bilang om lagi di masjid. tuh suaranya terdengar. tt Dewi hanya menarik napas. lalu saya cium sekali lagi pipi kanan tt Dewi. saat saya lirik tt Dewi, tt Dewi sedang memejamkan mata seakan-akan menikmati kecupan saya. Perlahan saya kecup lagi dan terus perlahan mendekati bibirnya. Ketika bibir saya menyentuh sedikit bibir kanan tt Dewi, tt Dewi terhenyak dan melalingkan muka kekir sambil berkata jangan tidak boleh. saya tanya kenapa tante? tt Dewi membalas dengan berkata yang lain boleh tapi jangan yang itu , tidak boleh. Lalu tt Dewi lebih mendekatkan wajahnya ke meja rias. wajahnya hanya berjarak 10cm dari cermin. saya menduga sikap agresif saya membuat dia menolak secara halus untuk dicium lagi. dengan posisi tt Dewi yang berdiri dengan menyondongkan badan dan wajah ke cermin, saya mepet di samping belakang kanan tt Dewi. Tangan saya tetap memeluk tt Dewi. Mata tt Dewi tidak lagi melirik mata saya. Seolah-olah menganggap saya tidak ada, tt Dewi melanjutkan memoles bibirnya dengan gincu. Saat itu mungkin sudah pukul empat pagi kurang. saya berkata maapin Achmad tante. Lalu saya mengecup perlahan lagi pipinya tt Dewi tapi kali ini dekat telinga. tt Dewin tiba-tiba melirik saya dengan tatapan mata yang tajam. saya lalu tetap mencium pipinya dan perlahan ke telinganya. Entah masih tetap melirik tajam atau tidak, tt Dewi perlahan mendesah. nafasnya pun berubah deras. Saya tatap kecup dan permainkan telingan tt Dewi. Perlahan kecupan bibir saya teruskan ke leher jenjang tt Dewi dan ke pundaknya. saya bahkan mulai mengeluarkan lidah saya untuk dimainkan di pundak tt Dewi. Pelukan saya eratkan sehingga kontol saya yang tegang menyentuh keras di bagian pantat tt Dewi.Saat saya lirik tt Dewi memejamkan mata. tangannya masih tetap memegang gincu. terasa desahan napas tt Dewi semakin seru. pahanya saling merapat. kini saya sudah memeluk dari belakang tepat. tangan kanan saya perlahan ke arah pahanya. sedangkan tangan kiri saya perlahan meraba dadanya. Teras begitu empuk dan kenyal dada tt Dewi. Begitu asiknya saya mengecup leher wanita dewasa yang telah lama saya idamkan ini. tanpa terasa ketika saya melirik ke cermin, handuk tt Dewi sudah melorot di bagian dada. Tangan saya yang kiri sedang asik memutar pentil tt Dewi. Sedangkan yang kanan sudah di selangkangan depan tt DEwi sambil mengelus-ngelus wilayah yang berbulu dari depan. tt Dewi tetap memejamkan mata. kini tt DEwi sudah berani mendesah. kontol saya dengan dilapisi sarung sudah menegang dan menempel di belahan pantat tt Dewi. Punggung tt Dewi sudah terbuka lebar. Tiba-tiba pintu depan terdengar berderit. saya segera ngacir dari kamar tt Dewi. Sempat saya lihat tt Dewi yang membetulkan handuknya dan pura-pura kembali sedang memoles bibirnya dengan gincu tadi.

    Saya segera ke ruang salat untuk perempuan dirumah tt Dewi. Ketika om lewat, saya pura-pura sedang jalan keluar dari ruang salat. Om bertanya lho kok nak Achmad disini? saya jawab khan saya nginap om, nanti pagi disuruh jemput ************************ di puncak. oh begictuuh, kata om😀. gw pikir, bego banget nih om. istrinya baru saja saya seduce dari belakang dan dia masih sibuk sok suci. whehuahuhuahuaa…:D

    Pagi itu pikiran saya kalut benar. Saya lagi konak banget. pingin banget main ama tt Dewi. Tiba-tiba dari kamar pacar saya, saya mendengar bunyi wc dibuka. saya harap itu adalah om. saya lalu kebawah. setelah yakin itu suara om. saya lalu memakai celana surfing saya tapi tanpa celana dalam. baju atas saya cyuma memakai kaos ketat. saya berjalan kekamar tt Dewi. ternyata tt Dewi masih riasan di kamarnya. dan tt Dewi masih memakai handuk. cuma kali ini tt Dewi sedang merias pipinya dan sudah menyanggul rambutnya. saya lalu mendekati tt Dewi. tt Dewi melihat saya dari cermin dan betanya khawatir. Om mana? saya jawab lagi dikamar mandi. tt Dewi tersenyum lalu berkata om paling lama dikamar mandi soalnya biasanya sambil baca koran. saya lalu bertanya tante boleh lanjutin yang tadi yap? tt Dewi tidak berkata apapun dan hanya membalikkan badan ke cermin lalu kembali menyondongkan badannya. saya lalu menarik handuk tt Dewi. tt Dewi menjerit kecil lalu melirik saya tajam tetapi tetap diam. saya lalu kembali meraba-raba dada tt Dewi sambil menciumi leher tt Dewi. tt Dewi kembali liar dan mendesah-desah. lalu kedua tangan saya memegang pinggul aduhai tt Dewi. saya keluarin rudal saya. Maksud saya ingin masukin dari belakang. perlahan sambil tetap saya ciumin leher dan telinga tt Dewi, rudal saya gosok-gosokin ke selangkangan tt Dewi dari belakang. tt Dewi lalu berbalik dan bilang jangan masuk . saya lalu bilang tidak apa tante tidak ada yang tahu koch. tetapi tt Dewi membalas tidak, pokoknya jangan dimasukin. di gosok-gosok saja dengan tangan. saya bilang sip tante, cuman diluar aja koch. tapi saya memang sudah konak banget. saya tarik tt Dewi ke tempat tidur. saya baringkan dan tindih badannya dan menjilati leher dan telinganya. tt Dewi meronta sebentar tapi lalu diam saja sambil berkata hati-hati ketahuan om. saya lalu mencium bibir tt Dewi. tt Dewi sempat memalingkan wajahnya ke samping tetapi tetap saya buru bibir tt Dewi. Entah mungkin karena sudah konak juga, tt Dewi membalas mesra pagutan saya. saya coba mengulum lidah tt Dewi membalas denga liar. sambil berpagutan liar, saya mengarahkan rudal saya ke liang tt Dewi. Akhirnya rudal saya melesak masuk ke liang tt Dewi. tt Dewi kaget dan berkata kok dimasukin? kan katanya cuman diluar saja. pikiran saya sudah kabur. saya hanya ingin cepat sebelum om selesai mandi. lalu saya genjot tt Dewi. tidak samapai 5 menit, tt Dewi mengerang nikmat. saya lalu meraih pinggu tt Dewi dan membaliknya. Kini tt Dewi, tt Cina yang seksi ini sudah doggies stile di depanku. segera saya sodok kencang berulang-ulang. tt Dewi seakan sudah melupakan dunia. tt Dewi menjerit-jerit keenakan. saya sodok kencang hingga akhirnya saya mau keluar. segera saya tarik lalu menjambak rambut tt Dewi, saya tari kepala tt Dewi. lalu saya lepaskan semua kegemesan saya di muka leher rambut wajah tt Dewi. LAlu saya suruh tt Dewi mengulum rudal saya. sisa sisa air kenikmatan memenuhi wajah dan leher tt Dewi. Perlahan air nikmat tersebut mengalir dari wajah ke leher lalu ke belahan dada tt Dewi.

    Segera saya tinggalkan tt Dewi. Saya ke kamarnya pacar saya untuk menunggu om selesai mandi karena saya juga mau mandi. saya gakl peduli dengan kondisi tt Dewi yang sedang bugil dan terengah-engah di ranjangnya.

    Setelah om selesai saya lalu mandi. Ketika saya keluar kamar mandi. sekitar pukul 6 pagi kurang.tt Dewi lagi menonton tv.ternyata tt Dewi belum mandi setelah bermain. tt DEwi sudah memakai baju pesta. rupanya om dan tt Dewi mau menghadiri pesta perkawinan di Banten. tt Dewi tidak melirikku sama sekali. Ketika saya melihat om lagi ngobrol dengan tetangga di depan rumah, saya kecup leher tt Dewi sambil berkata tante hot banget dech. tt Dewi tidak menatapku dan diam saja dan lalu berkata jangan diulangi lagi. saya mengiyakannya. Sampai saya berangkat menjemput pacar saya, tante tidak berani menatap saya. Seminggu lebih tt Dewi tidak berani menatap saya bahkan cenderung menghindari saya. Tapi anehnya pernah tt Dewi keluar kamar mandi dengan hanya menutup bagian depan saja. kebetulan saya ada di ruang tv. pacar saya lagi ambil apa dikamar sedangkan om lagi keluar rumah. tt Dewi lewat begitu saja dengan hanya menutup bagian dada dan liangnya saja tetapi punggungya tetap terbuka di depan saya. tapi ketika saya panggil halus tante Dewi mengabaikannya dan menutup pintu kamar tanpa menatap saya sedikitpun. Sampai saat ini kurang lebih 6 bulan, tt Dewi tidak pernah menatap mata saya kalo bertemu atau duduk dekat dengan saya dan saya juga takut menanyak lebih lanjut ke tt Dewi. Kisah ini benar terjadi. Mungkin pembaca punya saran bagaimana saya merayu kembali tt Dewi. Saya selalu mencoba seandainya ada waktu kosong dirumah pacar saya tetapi tidak ada waktu berdua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: